BEGIN:VCALENDAR
VERSION:2.0
METHOD:PUBLISH
CALSCALE:GREGORIAN
PRODID:-//WordPress - MECv7.32.0//EN
X-ORIGINAL-URL:https://howtobali.com/id//
X-WR-CALNAME:Best of Bali
X-WR-CALDESC:Direktori Bisnis
X-WR-TIMEZONE:UTC
BEGIN:VTIMEZONE
TZID:UTC
X-LIC-LOCATION:UTC
BEGIN:STANDARD
TZOFFSETFROM:+0000
TZOFFSETTO:+0000
TZNAME:UTC
DTSTART:20260517T021219
END:STANDARD
END:VTIMEZONE
REFRESH-INTERVAL;VALUE=DURATION:PT1H
X-PUBLISHED-TTL:PT1H
X-MS-OLK-FORCEINSPECTOROPEN:TRUE
BEGIN:VEVENT
CLASS:PUBLIC
UID:MEC-eb7ef0469ad23a2c5782e8770da04529@howtobali.com
DTSTART;TZID=UTC:20260705T000000
DTEND;TZID=UTC:20260706T000000
DTSTAMP:20251117T033028Z
CREATED:20251117
LAST-MODIFIED:20260513
PRIORITY:5
SEQUENCE:2
TRANSP:OPAQUE
SUMMARY:Pengerebongan
DESCRIPTION:Pengerebongan — dikenal juga sebagai Ngerebong — adalah salah satu upacara paling sakral dan intens secara spiritual di Bali. Berlangsung delapan hari setelah Kuningan, setiap 210 hari sekali dalam kalender Pawukon Bali, di Pura Agung Petilan di Kesiman, Denpasar Timur. Pelaksanaan berikutnya adalah 5 Juli 2026.\nKata Ngerebong berasal dari bahasa Bali yang berarti “berkumpul” — dan itulah yang terjadi. Seluruh komunitas Desa Kesiman berkumpul di pura, dan upacara ini menarik pengunjung dari seluruh Bali dan luar daerah yang datang khusus untuk menyaksikan apa yang terjadi di sini.\nYang Membuatnya Luar Biasa\nPengerebongan ditandai oleh kerauhan — kerasukan. Selama upacara, para peserta memasuki kondisi trance yang diyakini disebabkan oleh roh-roh ilahi yang turun untuk berkumpul bersama umat. Pria dan wanita jatuh kerasukan, bergerak tanpa sadar, kadang mengarahkan keris suci ke tubuh mereka sendiri tanpa mengalami cedera. Ini bukan pertunjukan. Ini dianggap sebagai manifestasi langsung kehadiran para dewa.\nBarong dan Rangda — kekuatan perlindungan dan kekacauan dalam Hindu Bali — diarak dalam prosesi yang diiringi gamelan sakral. Jalan-jalan di sekitar pura dihiasi dengan penjor-penjor menjulang tinggi, dan seluruh Kesiman semerbak wangi dupa.\nUpacara dan Maknanya\nUpacara ini berakar pada Tri Hita Karana — kerangka keselarasan tiga dalam Hindu Bali: antara manusia dan Tuhan, antara sesama manusia, dan antara manusia dan alam. Pengerebongan adalah pembaruan kolektif dari ketiga keselarasan tersebut. Komunitas hadir bukan sekadar sebagai penonton tetapi sebagai peserta — berdoa, membuat persembahan, dan dalam beberapa kasus secara langsung dipilih oleh roh untuk membawa kehadiran mereka.\nTradisi di Pura Agung Petilan telah terdokumentasi sejak tahun 1937, meskipun akarnya dalam praktik adat Kesiman jauh lebih tua. Ini dianggap sebagai salah satu peristiwa spiritual terpenting di Denpasar — bukan upacara wisata, melainkan tradisi hidup dari desa adat.\nUntuk Pengunjung\nPengerebongan terbuka untuk pengunjung. Datanglah dengan berpakaian adat Bali yang sopan (kain dan selendang). Tiba lebih awal — upacara berkembang sepanjang pagi dan mencapai puncaknya menjelang siang saat kerauhan paling intens. Fotografi umumnya diperbolehkan, namun tetap baca situasi: Anda menyaksikan sesuatu yang nyata, bukan pertunjukan.\nKesiman berada di Denpasar Timur, sekitar 15 menit dari kawasan Sanur. Pura Agung Petilan mudah ditemukan dan menjadi pusat desa.\nPelaksanaan berikutnya: 5 Juli 2026. Delapan hari setelah Kuningan (27 Juni 2026). Berulang setiap 210 hari dalam kalender Pawukon.\n
URL:https://howtobali.com/id/acara/pengerebongan/
ATTACH;FMTTYPE=image/jpeg:https://howtobali.com/wp-content/uploads/2025/11/ngerebong.jpg
END:VEVENT
END:VCALENDAR
