Soma Ribek
Soma Ribek
Soma Ribek jatuh pada Senin, 2 November 2026, sehari setelah Banyu Pinaruh dan dua hari setelah Saraswati. Inilah hari ketika umat Hindu Bali memuliakan Dewi Sri, dewi padi dan kemakmuran, dengan menghaturkan persembahan kepada beras yang tersimpan di rumah — salah satu hari yang lebih tenang dan bersifat kerumahtanggaan dalam kalender Bali, dirayakan di dapur dan lumbung, bukan di pura-pura besar.
Namanya lazim dimaknai sebagai ‘Senin yang berlimpah’ — soma berarti Senin, dan ribek berarti penuh atau melimpah. Persembahan diletakkan di atas atau di samping tempat penyimpanan beras keluarga: di rumah-rumah tua, di lumbung, bangunan kayu panggung beratap ilalang melengkung; di rumah modern cukup di tempat beras atau karung di dapur. Keluarga bersyukur atas panen yang telah di tangan dan memohon agar persediaan tak pernah kosong. Pada hari ini, secara tradisi, padi tidak ditumbuk, beras tidak dimasak dari persediaan baru, dan tidak dijual — dibiarkan beristirahat.
Bagi pengunjung, ini bukan hari tontonan. Tidak ada arak-arakan dan tidak ada tiket yang perlu dibeli. Yang mungkin Anda perhatikan saat berjalan melintasi desa di pagi hari adalah tempat sesajen di depan dapur dan di samping lumbung, dupa di ambang pintu, serta para perempuan berbusana adat yang berlalu-lalang di antara pekarangan rumah. Di jantung pertanian padi — Jatiluwih, Sidemen, terasering di sekitar Ubud — sebagian petani masih menghaturkan persembahan di sawah selain di rumah.
Soma Ribek berada di tengah pekan pembuka tahun Bali: Saraswati pada Sabtu, pembasuhan fajar Banyu Pinaruh pada Minggu, Soma Ribek pada Senin, Sabuh Mas pada Selasa, lalu Pagerwesi pada Rabu. Masing-masing memuliakan sisi berbeda dari apa yang menopang kehidupan — pengetahuan, penyucian, pangan, kekayaan, dan perlindungan spiritual.
Catatan bagi pengunjung: jika Anda menginap di rumah keluarga atau homestay, tanyakan apakah Anda boleh menyaksikan persembahan dibuat; kebanyakan tuan rumah dengan senang hati menjelaskannya. Jangan melangkahi atau memindahkan tempat sesajen. Bagi pulau secara umum ini hari kerja biasa, tanpa penutupan. Satu-satunya yang berubah: sebagian rumah tangga tradisional tidak menjual beras pada hari itu.