Jatiluwih Festival
Jatiluwih Festival
Festival Jatiluwih mengundang Anda untuk merasakan warisan hidup Bali di salah satu lanskap alam paling ikonik. Diselenggarakan di desa warisan dunia Jatiluwih yang diakui oleh UNESCO, festival ini memadukan seni tradisional, cita rasa lokal, prosesi budaya, lokakarya kreatif, serta edukasi keberlanjutan yang berlandaskan filosofi Tri Hita Karana. Melalui pendekatan ekowisata kolaboratif, festival ini menghubungkan manusia, budaya, dan alam dalam satu perjalanan yang tak terlupakan.
Memasuki edisi ke-7, Jatiluwih Festival berhasil masuk dalam Kalender Karisma Event Nusantara (KEN) 2026 — program pengakuan nasional bergengsi Kementerian Pariwisata Republik Indonesia untuk event budaya terbaik. Pencapaian ini mencerminkan reputasi Jatiluwih yang semakin diakui sebagai destinasi ekowisata berkelas dunia yang berakar pada tradisi Bali yang otentik.
Festival 2026 berlangsung selama dua hari. Hari pertama (20 Juni) menawarkan pertunjukan seni tradisional Bali, pameran produk UMKM Tabanan, serta edukasi sistem pertanian subak — bertepatan dengan musim panen. Hari kedua (21 Juni) menghadirkan elemen sport tourism perdana: lari Run 5K melintasi kawasan sawah terasering bersama ASITA (Asosiasi Perusahaan Perjalanan Wisata Indonesia), dalam rangka memperingati 100 Tahun Pariwisata Bali. Sekitar 2.000 pelari dari berbagai komunitas di Bali dan luar daerah diperkirakan akan berpartisipasi.
Masuk gratis. Festival ini diselenggarakan di Desa Wisata Jatiluwih, Kecamatan Penebel, Kabupaten Tabanan, sekitar 45 menit ke utara dari Ubud. Sawah terasering Jatiluwih seluas 227 hektar merupakan bagian dari sistem irigasi Subak yang diakui UNESCO pada tahun 2012.